Keterangan Gambar : Narsum Kolaborasi Relawan Kemanusiaan
Ketua Umum FMBM, Lesfida Nelli, buka acara dengan santai:
“FMBM ini bukan organisasi sok penting. Kami cuma datang bantu—BPJS macet,
Adminduk ngeyel, apolah. Yang penting warga jangan stress, nanti nambah
kerutan,” katanya sambil nyeruput kopi, gaya tenang tapi menusuk halus.
Masalah BPJS
langsung ditembak sama Ahmad Saibul Wapa dari BPJS Kesehatan. Nada suaranya 50%
edukasi, 50% bikin warga kaget:
“Kalau puskesmas atau rumah sakit tak pasang MoU, laporkan. Kalau obat disuruh
beli di luar, laporkan. Jangan diam bae. Diam-diam itu cuma cocok buat PDKT,
bukan urusan kesehatan,” tegasnya.
Warga pada
manggut-manggut sambil senyum-senyum dosa kecil.
Lanjut ke
Adminduk.
Sepki Alpa Putra dari Disdukcapil turun tangan. Penjelasannya jujur,
ceplas-ceplos, dan sedikit menusuk harga diri warga yang suka cari pintu
belakang:
“Tidak ada ordal. Urusan cepat karena memang urgent, bukan karena kenal siapa.
Jadi jangan sok bilang ‘orang dalam’. Tidak ado.”
Beberapa warga langsung pura-pura sibuk cek HP.
Lurah
Lempuing, Guri Srihono, angkat dua jempol.
“Kegiatan kayak gini mantap. Santai, ngopi, tapi masalah warga habis. Ini baru
acara, bukan cuma kumpul-kumpul foto,” ujarnya sambil ketawa kecil.
Akhir acara?
FMBM pulang dengan gaya merendah, tapi hasil kerja meninggi.
Warga pulang bawa senyum, beberapa bawa nomor kontak petugas—bukan buat PDKT,
tapi buat mastiin urusan mereka benar-benar lancar.
Kesimpulannya
wan:
FMBM datang bukan cari sensasi—cuma bawa kopi, solusi, dan sedikit sambal
pedas untuk masalah yang bandel.
Tulis Komentar