Keterangan Gambar : Aksi 'may day' SePOI
Jakarta, ayoBENGKULU || 01 Mei 2026
Di bawah sengatan matahari 1 Mei 2026 yang seolah ingin menggoreng helm para pengemudi, kawasan Monas kembali kedatangan tamu setianya. Bukan turis yang ingin naik ke cawan emas, melainkan rombongan Serikat Pengemudi Online Indonesia (SePOI) yang datang membawa spanduk bertuliskan "Keadilan Sosial Bagi Pengemudi Daring".

Sebuah tuntutan yang sangat ambisius, mengingat bagi algoritma aplikasi, "keadilan" biasanya berarti potongan komisi 20% plus biaya sewa aplikasi yang entah larinya ke mana.
Ketua Umum DPP SePOI, Mahmud Play—atau yang akrab disapa Mahmud Fly karena saking seringnya "terbang" mengejar bonus yang makin hari makin mirip fatamorgana—tampak memimpin barisan. Misinya sederhana namun mustahil: berharap Bapak Presiden Prabowo Subianto menoleh dari balik jendela istana dan seketika memberikan kepastian regulasi.
Aksi membentangkan spanduk ini sudah menjadi ritual tahunan yang lebih konsisten daripada jadwal ganti oli motor pengemudi ojol. Tuntutannya pun masih sama, awet, dan "vintage": Keseimbangan.
"Kami sudah menyuarakan ini bertahun-tahun," ujar Mahmud dengan nada suara yang berada di antara semangat juang dan pasrah akut.
Wajar saja beliau frustrasi. Bayangkan, sudah berganti kalender berkali-kali, namun status pengemudi daring masih tetap menjadi "Mitra". Sebuah istilah keren yang dalam kamus bahasa Indonesia berarti "teman seperjuangan", namun dalam praktek lapangan berarti "risiko tanggung sendiri, untung bagi dua (tapi banyakan saya)".
SePOI rupanya sudah lelah dengan surat edaran pemerintah yang sifatnya hanya "imbauan". Di Indonesia, "imbauan" kepada perusahaan aplikasi itu kekuatannya setara dengan tulisan "Dilarang Kencing di Sini" di pinggir jalan: sering dibaca, tapi tetap saja dikencingi.
Harapan besar digantungkan pada pundak Presiden Prabowo. Mahmud Fly dan kawan-kawan memimpikan sebuah regulasi yang:
Mengikat dua pihak: Biar perusahaan aplikasi tidak cuma jago bikin notifikasi "Tetap Semangat, Pejuang Keluarga!", tapi juga jago menjamin pendapatan yang layak.
Kepastian Pendapatan: Agar para pengemudi tidak perlu lagi melakukan ritual "sholat istikharah" hanya untuk memutuskan apakah orderan Rp8.000 dengan jarak 5 km layak diambil atau tidak.
Sangat puitis sebenarnya melihat SePOI membawa-bawa Sila ke-5 Pancasila. Di saat para petinggi aplikasi sibuk memikirkan Initial Public Offering (IPO) dan valuasi triliunan, para "mitra" di bawah spanduk Monas masih sibuk memikirkan bagaimana caranya agar sisa saldo di dompet digital cukup untuk beli bensin dan es teh manis tanpa harus mengutang ke warung sebelah.
SePOI ingin perusahaan tetap sehat, tapi pengemudi juga jangan sampai masuk Unit Gawat Darurat (UGD) karena kurang gizi. Sebuah keseimbangan yang sangat sulit dicapai, selayaknya mencoba membawa mesin cuci 2 pintu menggunakan motor matic di tengah kemacetan Jakarta.
Akankah aksi 1 Mei 2026 ini membuahkan hasil? Ataukah spanduk itu hanya akan berakhir di gudang sekretariat, menunggu untuk dikeluarkan lagi pada May Day 2027 dengan tulisan yang sedikit lebih pudar?
Hanya Tuhan, Presiden, dan algoritma aplikasi yang tahu jawabannya. Sementara itu, bagi rekan-rekan SePOI: Tetap pantau layar, siapa tahu ada orderan masuk di tengah orasi.
Tulis Komentar