Detik Detik Warga Sulbar M3l4h1rk4n di Jalan

"Tangis di Tengah Lumpur Kopeang"

"Mari sejenak kita tinggalkan hiruk-pikuk Kota Mamuju. Menolehlah ke sebuah sudut sunyi bernama Desa Kopeang. Di sini, kata 'pembangunan' hanyalah gema kosong yang tak pernah sampai ke telinga warga."

"Saat di ruang-ruang rapat pemerintahan kita bicara tentang angka kesejahteraan, di sini realitasnya adalah tanah merah yang keras dan bebatuan yang bisu. Bagi warga Kopeang, aspal bukan sekadar fasilitas, melainkan harapan tipis untuk tetap bertahan hidup—yang hingga kini masih menjadi mimpi yang amat mahal."

"Semesta menjadi saksi atas sebuah luka yang menyayat hati seorang ibu. Dengan raga yang gemetar menahan kontraksi hebat, ia harus menghadapi kenyataan pahit. Mobil yang membawanya terhenti, kalah oleh medan lumpur yang tak berbelas kasih."

Tidak ada ruang sterilisasi, tidak ada kasur rumah sakit yang nyaman. Hanya ada hutan, bebatuan, dan keputusasaan. Di tengah rimba sunyi, seorang wanita dipaksa bertaruh nyawa di tempat yang sama sekali tak layak untuk melahirkan kehidupan. Beralaskan kain seadanya di atas tanah kotor, di sinilah kemanusiaan kita diuji hingga titik nadir."

"Dan saat harapan hampir pupus, sebuah keajaiban pecah. Suara tangis bayi membumbung tinggi, membelah keheningan hutan yang mencekam. Sebuah kehidupan baru lahir dari rahim ketabahan di atas jalan hancur—bukti nyata pengabaian panjang terhadap hak dasar manusia."

"Tragedi ini adalah cermin retak pembangunan di Sulawesi Barat. Publik kini bertanya dengan nada serius kepada pemerintah: Di manakah kehadiran negara saat rakyatnya harus bersabung nyawa di jalanan? Bagaimana rencana strategis bisa disebut berhasil jika akses kesehatan dasar saja masih terputus oleh lumpur?"

"Kita menagih transparansi dan prioritas anggaran. Jangan biarkan nyawa warga di pelosok dianggap lebih murah daripada seremoni di pusat kota. Rakyat tidak meminta kemewahan, mereka hanya memohon jalan yang layak agar bisa menyambung napas. Semoga tangis bayi di Kopeang menjadi lonceng pengingat agar pemangku kebijakan segera terbangun dari tidur panjangnya."

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)