Surat Cinta untuk Presiden Prabowo: Curhat Driver Ojol soal Tarif dan Drama MitraMereka datang dari berbagai komunitas—mulai dari Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Lampung, Yogyakarta, Malang, Brebes, Palu, hingga Forum Masyarakat Bengkulu Mandiri. Tujuannya satu: menyatukan sikap nasional untuk disampaikan langsung kepada Presiden Pr

$rows[judul] Keterangan Gambar : Aksi SEPOI di Depan Istana Negara Jakarta


Jakarta, AyoBengkulu.id —

Di balik setiap tarif Rp10 ribu yang kamu bayar untuk pulang dari stasiun, ada kisah panjang soal bensin naik, order turun, dan potongan aplikator yang bikin dompet driver makin menipis. Itulah keresahan yang akhirnya mendorong pengemudi ojek online dari 14 daerah berkumpul di Tugu Proklamasi, Jakarta, Rabu (20/11), dalam Dialog Nasional Pengemudi Online yang digelar DPP Serikat Pengemudi Online Indonesia (SEP-OI).

Mereka datang dari berbagai komunitas—mulai dari Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Lampung, Yogyakarta, Malang, Brebes, Palu, hingga Forum Masyarakat Bengkulu Mandiri. Tujuannya satu: menyatukan sikap nasional untuk disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.

“Ini catatan sejarah. Kita berkumpul di Tugu Proklamasi untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintah,” ujar Ketua Umum SEP-OI, Mahmud S.E.



Aksi "Surat Cinta": Dari Tugu Proklamasi Menuju Istana

Setelah konsolidasi, massa pengemudi bergerak dari Tugu Proklamasi untuk mengantarkan surat cinta—bukan cinta bikin baper, tapi cinta ala rakyat pekerja yang sudah terlalu lama jadi korban sistem "mitra" yang serba sepihak.

Isi tuntutan tersebut meliputi:

  1. Mendesak Presiden dan DPR RI merespons persoalan kesejahteraan driver ojol.

  2. Meminta Kemenhub, Kominfo, dan Kemenkeu menerapkan kebijakan tarif secara konsisten.

  3. Menertibkan kebijakan transportasi daring yang dianggap merugikan pengemudi.

  4. Menghapus pola hubungan kemitraan dan menghadirkan skema baru yang dinilai lebih adil.

Bagi para driver, istilah mitra bukan lagi hubungan bisnis setara, melainkan status yang membuat mereka bekerja layaknya karyawan, namun tanpa perlindungan layaknya tenaga kerja formal. Di sinilah narasi perlawanan itu tumbuh.

Lebih dari Sekadar Tarif: Ini Soal Harga Diri Pekerja Jalanan

Bagi banyak pengemudi, perjuangan ini bukan hanya soal angka potongan atau algoritma aplikasi.
Ini soal hak hidup layak—tentang bagaimana profesi yang menopang jutaan warga kota tak terus diperlakukan sebagai "nomor order" dalam dashboard perusahaan teknologi.

SEP-OI menegaskan bahwa perlawanan tidak akan berhenti sampai ada:

  • perlindungan sosial yang nyata,

  • payung hukum, dan

  • jaminan kesejahteraan bagi seluruh pengemudi online di Indonesia.


Respon Pemerintah: Kemenhub Terima Perwakilan Driver

Aksi ini tidak berakhir hanya di pagar depan gedung kementerian. Perwakilan driver dari berbagai daerah dipersilakan masuk dan berdialog langsung dengan pihak Kementerian Perhubungan.

Dalam pertemuan tersebut, pihak Kemenhub menyatakan akan menyampaikan laporan resmi kepada Presiden Prabowo Subianto terkait tuntutan yang diajukan para pengemudi. Selain itu, kementerian juga menyebut akan mengusulkan percepatan pengesahan regulasi—termasuk undang-undang yang mengatur hubungan kerja dan tarif—secepat mungkin bersama DPR RI.

Pernyataan ini menjadi salah satu titik harapan bahwa perjuangan driver bukan hanya sekadar aksi turun ke jalan, namun mulai masuk ke meja kebijakan negara.

Mereka mungkin datang dengan jaket hijau, kuning, biru, atau merah—tapi hari itu, mereka pulang membawa satu warna yang sama: harapan.

Harapan bahwa surat cinta ini bukan hanya dibaca, tapi dibalas dengan kebijakan yang berpihak.
Bukan sekadar “masuk grup WA kementerian”, tapi perubahan nyata di hidup para pekerja jalanan.


Teks/Editor: Agus Black

Foto: Agus Black

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)