FEATURE ayobengkulu.id || Malam bagi sebagian anak adalah waktu untuk pulang, berganti baju, lalu tidur di rumah. Namun di Padang Maninjau, Sumatera Barat, malam justru berarti bertahan. Beberapa anak memilih menggelar alas seadanya di ruang kelas, tidur di bangku sekolah, agar esok hari mereka tetap bisa belajar. Rumah orang tua mereka masih tertimbun lumpur sisa banjir.
Kisah-kisah inilah yang sampai ke telinga para relawan di Bengkulu. Bukan dari laporan resmi, melainkan dari potongan cerita, video singkat di media sosial, dan pesan berantai antarrelawan. Tentang anak-anak yang kehabisan pakaian bersih, tentang buku pelajaran yang ikut hanyut, dan tentang bantuan yang belum kunjung datang ke wilayah terisolasi.
Jumat siang, 20 Desember 2025, Kampus Politeknik Kesehatan (POLTEKKES) Bengkulu menjadi saksi kepedulian itu bertumbuh. Tumpukan pakaian layak pakai, popok bayi, mukena, sajadah, hingga kardus berisi makanan dan air minum dalam kemasan disusun rapi. Relawan dari Gerakan Sosial Peduli Warga (GSPW), Forum Masyarakat Bengkulu Mandiri (FMBM), dan Serikat Pengemudi Online Indonesia (SePOI) berkumpul, menyatukan niat untuk membantu anak-anak dan keluarga korban banjir di Sumatera Barat.
Bantuan yang terkumpul bukan sekadar angka. Satu mobil setengah pakaian layak pakai dan uang tunai Rp1.600.000 disiapkan untuk mereka yang masih bertahan di tengah keterbatasan. Namun di balik itu, ada keresahan yang lebih dalam.
“Kami melihat sendiri di media sosial, ada bantuan yang datang dalam kondisi tidak layak pakai. Sementara di sisi lain, masih ada wilayah yang sama sekali belum menerima bantuan,” ujar Babe Muda Nop, relawan yang mendapat kabar langsung dari lapangan. Ia menyebut, di kawasan Padang Maninjau terdapat wilayah yang belum terjangkau karena akses jalan tidak bisa dilalui.

Data relawan menunjukkan setidaknya 40 rumah warga belum mendapatkan bantuan. Di antara rumah-rumah itu, ada anak-anak yang terpaksa menjadikan sekolah sebagai tempat paling aman untuk bermalam. Bukan karena nyaman, tetapi karena mereka ingin tetap belajar, menjaga rutinitas kecil yang tersisa di tengah bencana.
Karena itulah, selain pakaian dan makanan, para relawan juga membuka harapan akan bantuan buku tulis dan perlengkapan sekolah. Bagi anak-anak itu, selembar buku bukan hanya alat belajar, tetapi tanda bahwa mereka tidak dilupakan.
Ketua Umum FMBM, Lesfida Nelli, menegaskan bahwa bantuan ini tidak akan berhenti di Bengkulu.
“Insya Allah, setelah semua bantuan dipacking, kami akan segera berangkat. Kami yakin kondisi di Sumatera Barat belum sepenuhnya pulih. Lumpur masih menutupi rumah warga. Anak-anak muda dari Bengkulu akan kami kerahkan untuk ikut membantu langsung di Padang Maninjau,” ujarnya.

Di tengah segala keterbatasan, kepedulian menjadi satu-satunya hal yang bisa menjangkau tempat-tempat yang tak tersentuh. Dari Bengkulu, para relawan berharap siapa pun, dari komunitas mana pun, bisa saling menggenggam tangan.
Karena bagi anak-anak di Maninjau, bantuan bukan sekadar pakaian atau makanan. Ia adalah pengingat sederhana bahwa di luar sana, ada orang-orang yang peduli pada mimpi mereka—meski malam harus dijalani di bangku sekolah.
Tulis Komentar