ayobengkulu.id - JAKARTA || Hujan turun pelan di Jakarta, Kamis siang (18/12/2025). Di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, sekelompok anak muda berdiri dengan spanduk sederhana, sebagian basah, sebagian mulai lemas. Namun pesan di dalamnya tetap terbaca jelas: kegelisahan.
Mereka datang dari Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). Menamakan diri Aliansi Pemuda Peduli PALI (AP3), para anak muda ini tidak membawa amarah berlebihan. Yang mereka bawa justru pertanyaan—tentang bagaimana anggaran publik dikelola, dan teladan apa yang sedang dipertontonkan kepada generasi berikutnya.
Di antara spanduk-spanduk itu, ada kalimat yang kerap diulang: “Anak muda belajar dari teladan, bukan dari pembenaran.” Kalimat pendek, tapi sarat makna. Bagi mereka, pengelolaan anggaran bukan sekadar urusan administrasi, melainkan cermin nilai.
Isu pengadaan kendaraan dinas menjadi salah satu yang disorot. Namun, bagi AP3, mobil bukanlah pusat cerita. Ia hanya simbol—pintu masuk untuk membaca persoalan yang lebih luas tentang pola kebijakan anggaran.
“Mobil dinas itu contoh yang mudah dipahami publik,” kata Abu Rizal, Koordinator Aksi AP3. “Yang ingin kami sampaikan adalah pola di baliknya.”
Menurutnya, anak muda melihat adanya kebijakan yang berulang, dengan alasan yang seragam, namun penerapan yang berbeda. Di titik inilah kegelisahan muncul. Bukan karena tidak paham aturan, melainkan karena sulit menemukan konsistensi.
Di tengah hujan, beberapa peserta aksi tetap bertahan tanpa payung. Seolah ingin menyampaikan bahwa kegelisahan ini tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, dari apa yang sehari-hari mereka lihat.
“Anak muda belajar dari apa yang dipertontonkan,” ujar Abu Rizal. “Kalau yang terlihat adalah pembenaran, maka pembenaran pula yang akan ditiru.”
AP3 juga menyinggung soal diskresi anggaran. Mereka memahami diskresi sebagai kewenangan yang sah, namun mengingatkan bahwa setiap kewenangan selalu membawa tanggung jawab moral.
Aksi di depan KPK itu berlangsung singkat dan tertib. Tidak ada teriakan berlebihan, tidak pula provokasi. Yang tersisa hanyalah harapan—agar kegelisahan ini didengar, ditelaah, dan tidak berakhir sebagai catatan sunyi.
Bagi anak muda PALI, langkah ke Jakarta ini mungkin kecil. Namun mereka percaya, perubahan besar sering berawal dari keberanian bertanya.
Di bawah hujan Jakarta, mereka tidak sedang menuduh. Mereka sedang mengingatkan: masa depan daerah tidak bisa dibangun dari contoh yang keliru.
Tulis Komentar