Keterangan Gambar : Aksi Galang Bantuan Utan Kayu
Di bawah terik matahari yang menyelinap di antara gedung dan pepohonan Matraman, sekelompok orang berompi sederhana berdiri di Simpang Empat Utan Kayu. Mereka bukan menunggu angkutan, bukan pula berkampanye. Di tangan mereka, kotak donasi dari kardus bekas yang diperkuat lakban coklat. Suara mereka bercampur dengan deru kendaraan, memanggil siapa pun yang melintas untuk sejenak berhenti—dan peduli.
Logo SePOI juga terpampang jelas di spanduk kecil yang mereka bawa yang dipimpin langsung Ketua DPC SePOI Jakarta Timur Sabri—menandai bahwa aksi ini bukan digerakkan satu kelompok saja, melainkan gotong royong warga urban yang tak ingin tinggal diam.
Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, aksi 1 Desember itu menghadirkan ruang kecil bagi empati. Setiap pengendara yang merogoh kantong—seribu, dua ribu, sepuluh ribu—menitipkan harapan mereka agar saudara-saudara jauh bisa kembali berdiri setelah bencana.
“Aksi galang donasi ini nanti akan dikirim ke Sumatera dalam bentuk sembako. Dari Jakarta kami kumpulkan dalam rupiah, dan di Padang nanti dibelikan paket sembako,” ujar Sabri, Ketua DPC SePOI Jakarta Timur sekaligus koordinator lapangan. Di tangannya, tumpukan uang receh dan lembaran kecil mulai memenuhi kotak donasi. Senyumnya lelah, tapi ada tekad di matanya.
Hingga pukul terakhir aksi, total dana yang terkumpul mencapai Rp 1.800.000.

Namun aksi ini lebih dari sekadar mengumpulkan uang. Ada pesan yang diusung dari satu lampu merah ke lampu merah lain: pesan tentang alam.
“Kalau hutan terus ditebang untuk kepentingan sekelompok orang, bagaimana kita mau selamat? Alam itu harus dijaga,” kata seorang relawan sambil membetulkan rompinya yang sudah basah oleh keringat.
Di sela kegiatan, beberapa warga sekitar datang membawa botol air mineral. Senyum-senyum kecil itu menjadi bukti bahwa solidaritas tidak perlu panggung besar—kadang tumbuh sederhana di sudut jalan, di sela panas aspal, di tengah debu kota.
Petugas Dinas Perhubungan yang berjaga ikut memastikan arus lalu lintas tetap tertib selama aksi berlangsung. “Kami mendukung kegiatan sosial seperti ini. Pengendara juga terlihat antusias memberi sumbangan,” ujarnya.
Menjelang sore ketika matahari condong dan kotak donasi semakin berat, para relawan Paguyuban Matraman Bersatu dan DPC SePOI Jakarta Timur saling menepuk bahu. Mereka tahu, bantuan yang mereka kumpulkan mungkin tidak menghapus seluruh duka para korban bencana. Namun kepedulian itu—betapa pun kecilnya—adalah sinyal bahwa para korban tidak sendirian.

Dan di simpang jalan itu—di antara suara klakson, panas kota, dan langkah-langkah yang tak menyerah—solidaritas menemukan jalannya sendiri: bergerak dari satu hati ke hati lain, dari Matraman menuju Sumatera.
Feature: Ines
Tulis Komentar