“Saya pastikan para pengemudi di Tarakan siap mengikuti mekanisme baru. Yakinlah, kami tidak sembrono,” ujar Misyadi, salah satu penggerak yang suaranya belakangan makin sering terdengar.
Mereka datang bukan untuk gagah-gagahan. Bukan juga untuk menantang siapa pun.
Yang dibawa hanya satu hal: kegelisahan—tentang pendapatan yang makin tipis, aturan aplikator yang makin tebal, dan ketidakpastian yang makin terasa menyesakkan.
Dari Grab, Gojek, Maxim, hingga pemain lain, semuanya berkumpul dalam satu payung besar: Serikat Pengemudi Online Indonesia (SEP-OI).
Di balik jaket warna-warni, mereka punya suara yang sama: menuntut keberanian aplikator untuk transparan.
Bukan hal muluk: yang diminta hanya legalitas yang nyata.
Apakah mereka benar berbadan hukum?
Apakah mereka punya kantor resmi di Tarakan?
Dan yang paling krusial: beranikah aplikator membuka akses dashboard agar pemerintah bisa mengawasi aktivitas operasional yang berdampak langsung pada ribuan pengemudi?
Seorang pengemudi menambahkan dengan nada yang tak bisa disembunyikan:
“Kami bukannya melawan aturan. Tapi receh-receh yang kami kumpulkan ini rasanya makin menjerat, sementara aplikator makin cuan.”
Kata-katanya sederhana, tapi mengena. Karena di balik helm dan masker, mereka bukan angka statistik. Mereka manusia yang menggantungkan dapurnya pada aplikasi di layar kecil.

Di sisi lain, regulasi memang tidak semudah menekan tombol 'online'.
Andi Panaungi dari Dinas Perhubungan Kaltara mengingatkan, operasional di bandara dan pelabuhan punya aturan khusus.
“Bandara itu bersifat bisnis, ada regulasi khusus. Aplikator harus punya perjanjian dengan pengelola,” jelasnya.
Di Pelabuhan Tengkayu I, misalnya, Grab sudah mengajukan permohonan kerja sama lewat UPTD.
Namun bagi para pengemudi, satu PR besar tetap menggantung: apakah semua aplikator lain sudah mengikuti aturan yang sama?

Dari meja kopi itu, keresahan menguap seperti aroma gula aren yang dicampur panasnya air.
Para pengemudi hanya ingin tahu:
Aplikator berani transparan atau tidak?
Legalitas ada atau tidak?
Kantor jelas atau tidak?
Akses dashboard bisa dibuka atau tidak?

Karena buat mereka, ini bukan sekadar dokumen—ini soal masa depan.
Karena setiap orderan yang masuk bukan cuma transaksi: itu adalah biaya susu anak, sewa rumah, cicilan motor, dan secercah harapan agar hidup esok hari sedikit lebih ringan.
Feature: Erdi
Tulis Komentar