FEATURE ayobengkulu.id - PALEMBANG || Sabtu, 20 Desember 2025, kegelisahan itu tumpah dalam sebuah ruang sederhana—rumah Ketua RT 73. Di sanalah Relawan Biru menggelar Diskusi Kampung, sebuah forum duduk bersama yang mempertemukan warga, tokoh masyarakat, dan para ketua lingkungan. Temanya lugas namun sarat harapan: Kolam Retensi sebagai Solusi Pencegahan dan Penanggulangan Banjir.

Diskusi ini bukan muncul tiba-tiba. Sebelumnya, Relawan Biru telah menyampaikan aspirasi warga ke DPRD Kota Palembang terkait persoalan banjir. Namun bagi mereka, menyuarakan aspirasi saja tidak cukup. Mereka ingin solusi dibicarakan langsung di kampung—di wilayah yang selama ini menjadi langganan genangan air.
Hadir dalam diskusi tersebut Ketua RT 73, Ketua RT 72, Ketua RW 14, tokoh masyarakat, serta warga yang tinggal di sekitar lokasi rencana pembangunan kolam retensi. Diskusi dibuka oleh Ketua RT 73, lalu dilanjutkan oleh Ketua RW 14 yang juga merupakan warga setempat.
Menurut Ketua RW 14, rencana pembangunan kolam retensi di wilayah Kebun Bunga bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan harapan lama masyarakat. “Ini sangat ditunggu warga. Bukan hanya untuk mengatasi banjir, tapi juga membuka akses ekonomi, akses jalan, dan konektivitas ke Jalan Nurdoen Panji serta wilayah RT dan kelurahan lain,” ujarnya.
Nada suara warga yang hadir hampir senada: menunggu. Seorang tokoh masyarakat menyampaikan kegundahannya dengan nada tegas namun jujur.
“Apa lagi persoalannya sehingga tidak juga dibangun? Kami yang tinggal di sini tidak protes, tidak menolak, tidak ribut. Isu markup tidak ada. Isu tanah negara juga tidak benar. Tanah itu ada SHM, ada jual beli antarwarga, dan setahu kami sudah beres soal ganti rugi. Jadi alasan apa lagi untuk menunda?” katanya.
Ia meminta agar persoalan tidak dibesar-besarkan dan tidak diciptakan konflik baru. “Kami benar-benar menunggu kolam retensi ini dibangun,” tambahnya.

Bagi warga seperti Yusnadi, banjir bukan isu abstrak. Ia merasakannya langsung setiap hujan besar datang. Rumahnya kerap kemasukan air.
“Saya sangat berharap kolam retensi itu dibangun. Saya yakin rumah saya tidak akan kebanjiran lagi. Air dari segala penjuru, termasuk dari rumah saya, akan tertampung dan mengalir ke kolam retensi itu. Kondisi tanahnya memang pas,” ujarnya yakin.
Di tengah diskusi, Ketua Relawan Biru Dedek Chaniago, SH, yang akrab disapa Jenderal DC, menjelaskan persoalan banjir dari sudut pandang yang lebih luas. Menurutnya, banjir di Palembang adalah persoalan ketidakseimbangan antara daya dukung dan daya tampung lingkungan.
“Rawa ditimbun, drainase tersumbat sampah, pohon ditebang, ruang terbuka hijau hilang fungsinya, dan kolam retensi tidak tersedia. Ini rantai persoalan yang saling berkaitan,” jelasnya.
Ia menegaskan, Relawan Biru hadir sebagai bentuk konsistensi untuk berkontribusi bagi Kota Palembang. Setelah menyampaikan aspirasi ke DPRD, langkah berikutnya adalah menggali solusi langsung dari masyarakat, tepat di lokasi yang direncanakan akan dibangun kolam retensi.
Soal polemik yang beredar, Dedek Chaniago menegaskan bahwa secara regulasi, rencana pembangunan kolam retensi telah melalui proses dan kehati-hatian. Ia menyebut keterlibatan berbagai pihak, mulai dari Dinas PUPR Kota Palembang, BPN, notaris, KJPP, konsultan FS, Datun Kejaksaan, hingga perangkat wilayah dan pemilik tanah, dengan mengacu pada sejumlah regulasi, di antaranya UU No.2 Tahun 2012, PERMEN PUPR No.12 Tahun 2014, hingga Perda RTRW Kota Palembang.
“Kalau prosesnya sudah sesuai aturan, lalu kepentingan siapa yang menghambat? Yang dibutuhkan warga hari ini adalah kolam retensi, bukan tarik-menarik kepentingan elit,” tegasnya.
Diskusi Kampung itu pun ditutup dengan satu suara yang sama. Ketua RT 73 bersama warga meminta Relawan Biru kembali menitipkan aspirasi mereka kepada pemerintah.
“Kolam retensi ini sangat kami butuhkan—secara ekologis, ekonomi, dan akses wilayah. Kami mohon agar segera dibangun,” ujar perwakilan warga.
Di rumah sederhana itu, tidak ada spanduk besar atau janji politik. Yang ada hanyalah suara kampung yang ingin air tak lagi datang tanpa permisi. Dan kolam retensi, bagi warga Kebun Bunga, bukan sekadar lubang besar penampung air—melainkan harapan agar hidup kembali normal.
Tulis Komentar