Perang Jaket Warna-Warni: Driver Ojol Dijadikan Tumbal AlgoritmaOleh: AGUS RINALDY (Black); Pemimpin Redaksi ayobengkulu.id

$rows[judul]

Opini ayobengkulu.id

Jangan tertipu senyum di baliho dan iklan digital aplikator transportasi online. Di balik jaket warna-warni yang memenuhi jalanan kota, sedang berlangsung perang berdarah antar perusahaan raksasa—perang yang dimenangkan aplikator dan konsumen, namun dibayar mahal oleh driver.

Ini bukan lagi cerita tentang peluang kerja fleksibel. Ini tentang sistem yang secara sadar membangun ketergantungan, lalu memeras tenaga manusia lewat algoritma tanpa wajah dan tanpa empati.

Tarif dipangkas, bonus dipersulit, aturan diperketat. Driver disebut “mitra”, tapi diperlakukan seperti buruh kontrak tanpa kontrak, tanpa jaminan, dan tanpa ruang protes.

Monopoli Hijau dengan Wajah Humanis Palsu

Sebagai penguasa pasar, Gojek dan Grab tampil paling rapi, paling profesional—dan paling menekan.

Status mitra hanyalah kamuflase hukum. Faktanya, driver dikontrol layaknya karyawan penuh: wajib on-bid berjam-jam, performa dipantau detik demi detik, dan penolakan order bisa berujung hukuman sistemik. Ini bukan kemitraan. Ini subordinasi yang disamarkan.

Suspend menjadi senjata paling efektif. Tidak transparan, sering sepihak, dan nyaris tanpa mekanisme pembelaan yang adil. Banding hanya formalitas. Jawaban hampir selalu sama: keputusan final. Titik.

Bonus? Itu cerita masa lalu. Hari ini, target dibuat nyaris mustahil, memaksa driver bekerja hingga batas fisik manusia hanya untuk imbalan yang tak lagi sepadan.

Murah di Aplikasi, Mahal di Penderitaan

Maxim kerap dipuja sebagai aplikator “merakyat”. Tarifnya murah. Tapi murah bagi siapa?

Tarif dasar yang ditekan habis-habisan bukan hanya merugikan driver Maxim, tapi merusak ekosistem ojol secara nasional. Aplikator lain ikut menurunkan harga. Efek domino pun terjadi: standar pendapatan driver anjlok secara kolektif.

Sistem prioritas memperparah keadaan. Driver “kelas satu” menyedot order, sementara sisanya dibiarkan saling berebut remah. Ini bukan kompetisi sehat, melainkan perang saudara yang disengaja oleh sistem.

Demokrasi Palsu Bernama Tawar-Menawar

inDrive menjual narasi kebebasan harga. Namun di lapangan, yang terjadi adalah lelang harga diri.

Penumpang bebas memasang tarif serendah mungkin. Driver, yang butuh uang tunai untuk bertahan hidup, terpaksa saling banting harga. Yang menang bukan yang layak, tapi yang paling putus asa.

Sistem manual ini juga memaksa driver terus menatap layar, bahkan saat berkendara. Risiko kecelakaan meningkat, kelelahan mental tak terhindarkan. Semua demi satu order.

Mesin Logistik Tanpa Sentuhan Kemanusiaan

Di sektor pesan-antar dan logistik, Shopee bergerak agresif. Tapi agresivitas ini kerap dibayar mahal oleh kurir.

Upah per paket yang minim, beban operasional tinggi, dan hubungan kerja yang kabur menciptakan ketidakpastian kronis. Suspend massal tanpa penjelasan transparan menjadi pola berulang, terutama saat kebijakan internal berubah atau order menurun.

Manusia diperlakukan seperti angka dalam dashboard.

Satu Benang Merahnya Driver Selalu Dikalahkan

Apa pun aplikasinya, polanya sama.

Perekrutan driver dibuka tanpa kendali, menciptakan oversupply yang disengaja. Order sedikit, driver membludak. Posisi tawar pun runtuh.

Jaminan sosial nyaris nol. Kecelakaan, sakit, atau usia tua adalah urusan pribadi driver. Aplikator cukup cuci tangan dengan asuransi perjalanan seadanya—cukup untuk menggugurkan tanggung jawab, bukan melindungi kehidupan.


Negara Absen, Driver Jadi Korban

Masalah utama industri ojol bukan teknologi, melainkan keberpihakan.

Selama negara membiarkan relasi timpang ini berlangsung, selama regulasi hanya menguntungkan korporasi dan konsumen, driver akan terus menjadi korban yang dinormalkan.

Ini bukan soal malas atau rajin. Ini soal sistem yang memang dirancang untuk menekan yang lemah.

Jika negara terus absen, maka jangan heran jika jalanan dipenuhi jaket warna-warni yang lelah, marah, dan suatu hari—meledak.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)